Minggu, 19 Desember 2010

Energi Nuklir dan Alternatifnya

Sebuah keinginan mulia bagi pemerintah melalui Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), yang akan dimulai pada tahun 2010-2016 di semananjung Muria. Namun, yang perlu diketahui PLTN sendiri sangat memungkinkan terjadinya kecelakaan. 

Berbagai fakta menunjukan, bahwa beberapa negara pengguna energi nuklir telah mengalami nasib naas yang menimpa sebagian warganya .

Sebut saja yang terjadi pada tanggal 25-26 April 1986 di Chernobil, Ukraina, Uni Sovyet. Di mana, kecelakaan ini telah melibatkan secara langsung 135 ribu orang, 24, 403 jiwa dinyatakan terkena radiasi yang cukup berat, dan 29 orang lagi dinyatakan menderita akibat yang fatal. Kemudian kecelakaan di Three Mile Island (TMI), Amerika Serikat, pada tanggal 28 Maret 1979 meski relatif kecil.

Kejadian seperti di atas, setidaknya menjadi kewaspadaan masyarakat di seluruh Indonesia, khususnya warga sekitar Muria. Karena, sampai saat ini PLTN tidak ada jaminan keselamatan bagi keberlangsungan makluk hidup, apabila nantinya terjadi kecelakaan reaktor nuklir.

Bagaimana masyarakat tidak keberatan terkait rencana pemerintah tersebut, karena kalau terjadi kebocoran reaktor nuklir, kurang lebih lima ratus kali kota semarang yang akan terkena dampak secara langsung. Selain itu efek radiasinya 100 km terdekat akan terbakar hidup-hidup. Dan, apabila terjadi ledakan mencapai radius 200.000 km. Mungkin kita hanya bisa membayangkan betapa besar ancaman PLTN ini bagi makhluk hidup dan ekosistem di sekitarnya.

Gambaran singkat di atas, seyogyanya dapat dijadikan referensi tersendiri bagi masyarakat luas. Patut dipertanyakan seberapa mendesakkah keberadaan PLTN di Indonesia? Hal tersebut, sekiranya dapat dijawab apabila sudah melalui kajian secara kritis dan mendalam terutama dari pihak-pihak terkait.

Melihat kemungkinan terjadinya kecelakaan reaktor nuklir, pemerintah dan segenap masyarakat harus bangkit untuk melakukan penciptaan-penciptaan energi lain, terutama energi terbarukan. Melalui cara ini lah solusi mengatasi kelangkaan energi, yang diperkirakan terjadi pada tahun 2015 nanti.

Masih lemahnya daya-cipta dimasyarakat, yang kaitannya dengan pengembangan energi, sudah sewajarnya pemerintah bertanggungjawab untuk memberikan dorongan dan menfasilitasi, khususnya bagi orang-orang yang mempunyai niat dan kemauan keras dalam bidang ini.

Salah satu upaya ke depan tak lain dengan mandiri energi, artinya bangsa Indonesia bisa menggunakan bioenergi, seperti energi uap, angin, surya, panas bumi dsb.Masih banyaknya energi alternati di negeri ini, sangat memungkinkan mencari sumber alternatif lain, selain PLTN. Apabila konsep energi mandiri ini dapat berhasil maka akan mengurangi dampak dan resiko yang didapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar